KALIAN MAU NGAPAIN SIH?

KALIAN MAU NGAPAIN SIH?

Judulnya nggak enak banget ya… Biarin saja. Dah gitu penyajiannya pun menggunakan bahasa seenak dan sesukanya saja.. Ya biarin saja.

Tulisan ini sengaja dibuat dan sengaja diposting di web #DiBUI untuk memuaskan hati saya tentang penting nggak sih kita mengorbankan berbagai hal untuk 2 kata yang sering saya dengung2kan yakni Pendidikan dan Relawan. Dan tulisan ini sengaja pula saya posting di blog saya, sebagai penanda jejak pikiran yang dilakukan dengan sederhana saja.

Pertama, Pendidikan. Mudah saja di Wikipedia pendidikan dimaknai sebagai pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Kedua, Relawan. Nah untuk definisi yang kedua ini Wikipedia belum memberikan jawaban yang pasti. Sekali lagi, belum lho ya.. Bukan tidak. Dalam bahasa saya, relawan adalah sebuah gaya hidup. Lifestyle lah kerennya..

Dalam berbagai kesempatan berkumpul dan berdiskusi dengan teman-teman #DiBUI baik serius maupun santai dan bahkan seenaknya, yang ketiga ini lebih sering sepertinya. Saya sering membuat pernyataan-pernyataan yang tidak sejalan dengan pemikiran teman-teman itu. Terkadang frontal dan entah saya sadari atau tidak, mungkin menyinggung perasaan mereka. Sekali lagi ya biarkan saja.. Saya sering mengundang atau memancing lebih tepatnya, supaya mereka membuka tabir pikiran masing-masing tentang 2 hal di atas.

Nggak ada tujuan lain, selain ingin melihat seberapa survive dan yakinnya mereka di jalan ini. Kenapa begitu? Ya namanya juga lifestyle, suatu saat kan bisa ketinggalan jaman seiring dengan seleksi alam yang terjadi dengan sendirinya.

Pertama, saya curhat soal pandangan saya tentang pendidikan. Saya bukan orang yang berpendidikan tinggi, tapi saya menikmati passion saya sebagai seorang pendidik. Meskipun job saya di kantor bukan murni sebagai pendidik atau trainer lho ya. Tapi lihat definisi pendidikan yang saya tulis di awal, ada kata-kata pengajaran, pelatihan disana. Saya berani mengatakan bahwa passion saya sebagai orang pendidik, karena dimanapun saya bekerja selalu ada semacam tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada saya untuk membidangi pengajaran dan pelatihan. Itu hasil refleksi saya sejak bekerja dari tahun 2003 sampai dengan sekarang di perusahaan yang berbeda. Maka tidak lain saya akan menarik benang merah bahwa Pendidikan tidak akan lepas dari passion. Catat dan beri garis tebal padanya.

Kedua, saya curhat soal relawan. Coba dipikir, teman-teman yang tergabung dalam berbagai komunitas apapun nama dan bentuknya, tentu saja yang jadi sorotan saya adalah komunitas yang konsennya pada bidang pendidikan. Kalau dipikir kan mereka itu aneh, urusan pendidikan itu sudah ada yang ngurus lho ya.. Milyaran rupiah sudah disediakan negara ini untuk ngurusin pendidikan dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi. Bukan melulu soal platform pendidikannya yang dibiayai, bahkan sampai hal yang sifatnya remeh temeh pun sudah diurusin oleh negara ini. Lha kok mereka yang ngakunya relawan itu masih mau ikutan ngurusin sih? Dan maaf, anehnya lagi mereka itu mau mengeluarkan dana pribadi yang jumlahnya pun tidak sedikit, untuk ikut membiayai pendidikan menurut versi dan kiprah mereka. Itupun belum terhitung dengan pengorbanan waktu dan tenaga. Sudahnya pendidikan kita dibiayai oleh negara, eh relawan juga ikut membiayai. Kalau kata orang Jawa ini kan sama aja “nguyahi segoro”, “garami lautan”. Memang mereka sudah kaya? Sudah hidup berkecukupan? Sudah Mapan? Saya pikir, bukan saya rasa lho ya.. saya pikir mereka belum sampai pada tahap itu. Nah, sampai pada tahap ini saya ingin mengatakan tindakan mereka adalah suatu orientasi hidup, hal itulah yang tidak bisa kita pikir, tapi disanalah rasa akan bermain. Pikiran bisa berubah, tapi perasaan akan selalu membekas. Sekali lagi orientasi hidup silakan dicatat dan beri garis tebal.

Lalu kemana arahnya kalau Pendidikan dan Relawan disandingkan? Andai saja pendidikan dianggap sebagai passion atau jiwa dan relawan sebagai orientasi hidup, saya optimis kita tidak akan menemukan sekolah kandang kambing, sekolah gudang kopra, sekolah bau sampah, pesing, dinding bolong, disela-sela rumput tinggi, di bawah terik matahari murid-murid berlari tanpa alas kaki, diantara mereka ada yang berlatih berbaris lalu menghormat sang merah putih yang kusam dengan tiang bendera yang mulai lapuk yang itu sebagai pertanda mereka hidup di negara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *