IDEALISME DAN INTEGRITAS MORAL

IDEALISME DAN INTEGRITAS MORAL

picture by : mahasiswaindonesia.com

Ini sebuah cerita yang menurut saya tentang idealisme seorang aktivis kampus, namun bertolak belakang dengan integritas yang selalu mereka tuntut dan dengung-dengungkan.

Sudah sejak dua minggu terakhir saya mendapat jadwal mengajar kelas malam jam kedua yang dimulai dari jam 20.30 sampai dengan 22.00 wita. Seperti biasa sambil menyiapkan perangkat mengajar mulai dari menghidupkan laptop sampai koneksi ke infocusnya, saya selalu melakukan pengisian presensi mahasiswa dengan memanggil nama mereka satu per satu. Hampir pasti saya tidak pernah mengedarkan daftar hadir untuk mereka tanda tangani sendiri. Sederhana tujuannya, supaya saya mengenal wajah & nama mahasiswa yang mengikuti kelas tersebut.

Tak lama setelah semuanya siap & saya selesai melakukan pengisian daftar hadir, seorang mahasiswa maju menghadap. Saya dapat mengingatnya dengan mudah dan pasti wajah mahasiswa tersebut meskipun dia baru kali ini mengambil mata kuliah yang saya ajarkan. Namun saya beberapa kali pernah bertemu dia dalam sebuah forum diskusi maupun talkshow yang berkaitan dengan politik, pergerakan atau apalah nama & temanya. Ya saya tahu dia seorang aktivis dan pengurus dari sebuah lembaga kemahasiswaan yang salah satu komisariatnya berada di kampus tempat saya mengajar. Karena memang sayapun aktif di komunitas & sering menjadi narasumber di berbagai acara diskusi, saya yakin dia juga tahu berbagai aktivitas saya tersebut.

Dia membuka percakapan seperti ini :

Mhs (M) : “Pak saya mohon ijin untuk keluar kelas, karena saya dan kawan-kawan dari XXXX (menyebut nama organisasinya) malam ini mau menghadap dan audiensi dengan anggota DPRD Balikpapan”

Saya (S) : “Untuk keperluan apa ?”

M : “Ada beberapa hal yang akan kami diskusikan dengan anggota DPRD tersebut Pak dan akan kami lakukan sekarang. Saya sudah mengirimkan surat atas nama organisasi dan beliau bersedia bertemu malam ini.”

S : “Oke, jika demikian karena kamu mau hadir ke pertemuan tersebut membawa nama organisasimu tersebut, mana surat tugas atau bukti yang dapat kamu tunjukkan ke saya untuk hadir di pertemuan tersebut?”

M : “Pak, saya ini sekretaris XXXX Balikpapan lho Pak, saya yang buat surat atas nama XXXX ke anggota DPRD tersebut & beliau bisa bertemu malam ini, cuma sebentar saja.”

Sampai disitu sontak saya langsung berpikir, ini “mahasiswa yang sok aktivis” nih.. Biasa aja kali mas, saya juga aktif diberbagai kegiatan & organisasi tapi nggak pernah yang pamer-pamer jabatan seperti itu.

S : “Nah dengan demikian kamu bisa dong buat surat tugas yang ditandatangani oleh Ketua tentang adanya kegiatan diskusi tersebut?”

M : “Saya tidak mengikuti secara keseluruhan Pak, saya hanya sebentar saja, saya hanya mengantarkan kawan-kawan saya untuk bertemu anggota DPRD tersebut, setelah saya kembali ke   kelas.”

Mulai dari sini sudah keliatan ‘ngeles’nya mahasiswa tersebut, saya sendiri sebenarnya sudah tidak yakin tentang adanya kegiatan tersebut.

S : “Kenapa harus diantarkan? atau gini deh, apa bukti kongkritnya atau apalah bentuknya, bahwa kamu memang penting untuk kesana dan acara tersebut ada? Dan yang terpenting kamu bisa meyakinkan kepada saya tentang sisi pentingnya.”

M : “Lha kira-kira apa ya Pak?”

S: “Ya silakan terserah aja, selama ini kan aktivis selalu bicara soal fakta dan mana buktinya. Nah, saya pun maunya seperti itu yang saya terapkan.”

M : “Oh ya sudah Pak, saya tunggu info dari teman-teman saya saja, jika mereka jadi kesana dan saya perlu ikut”

Nah lohh.. lain lagi ceritanya..

S : ” Ya silakan aja sih Mas, kamu mau ikut kegiatan itu atau mau bertahan di kelas untuk ikut kuliah, itu kan pilihanmu dan semua ada konsekuensinya. Saya juga nggak repot kok untuk menahanmu ikut kuliah saya.”

M : “Iya Pak, saya tunggu aja info dari teman-teman saya.”

Kemudian ia kembali ke kursinya.

Dari pengalaman itu saya berpikir tentang ‘drama’ yang dibuat oleh mahasiswa aktivis tersebut. Dia yang begitu lantang bicara soal pergerakan, perlunya perubahan dalam pemerintahan, serta berjuta-juta idealisme yang ia miliki, kini hanya kalah dengan ‘drama’ yang dia buat sendiri.

Disisi lain, jika berpikir negatif saya bisa mengatakan bahwa dia bohong dengan kegiatan tersebut, berbohong membawa nama organisasinya, berbohong dengan membawa idealisme aktivisnya. Untunglah saya sedikit paham tentang mekanisme organisasi dan sedikit mengerti gaya mahasiswa aktivis yang suka ‘ngeles’ ke dosen untuk tidak mengikuti perkuliahan namun minta dinyatakan hadir dalam perkuliahan tersebut. Kenapa kok minta dinyatakan hadir? Ya lihat saja, dia minta ijin untuk keluar kelas saya setelah saya melakukan presensi atas kehadiran mereka. Kalau memang dia mau konsisten terhadap sikap dan menjaga integritas moral dan idealisme pribadi dan organisasinya, dia pasti bisa menentukan mana yang penting ikut kuliah atau menjadi aktivis saja?

Sebagai catatan akhir, saya sangat menghargai segala aktifitas organisasi kemahasiswaan, bahkan saya sangat menganjurkan kepada para mahasiswa saya untuk jangan hanya fokus kuliah saja, namun manfaatkanlah status kemahasiswaanmu itu untuk membangun idealisme & networking-mu. Namun ingatlah bahwa disintegritas moral pribadi tidak serta merta tercipta hanya karena korupsi, kolusi dan lain-lain yang selama ini diperangi oleh aktivis pergerakan. Jangan-jangan hilangnya integritas moral pribadi tersebut sudah dibibit melalui hal-hal kecil dan sepele seperti cerita saya di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *