MEMANDANG DEMOKRASI DARI KACAMATA KAUM MUDA

MEMANDANG DEMOKRASI DARI KACAMATA KAUM MUDA

Oleh Rijal Fadilah (Pegiat Komunitas)
Disampaikan pada Dengar Pendapat Umum MPR RI  dengan tema “Pemilu dan Peran Pemuda”
Balikpapan, 13 Maret 2014

Bahwa kaum muda sebagai agent of change tidak dapat dipungkiri terjadi sepanjang sejarah demokrasi di Indonesia. Perubahan yang terjadi berulang kali tersebut dapat diartikan sebagai bersatunya kaum muda yang memiliki kepentingan bersama (commont interest) untuk memajukan Indonesia. Kepentingan itulah yang menjadi energi luar biasa bagi kaum muda yang memiliki komitmen moral yang tidak dapat diracuni oleh kepentingan sesaat.

Secara singkat dapat kita petakan gerakan kaum muda ini merupakan rangkaian panjang berkurun waktu 15 sampai dengan 30 tahun, dimulai dari 1908, 1928, 1945, 1966, 1998, hingga memasuki era pasca reformasi. Kemudian menjelang Pemilu 2014 kali ini kaum muda menjadi sorotan lagi karena menempati skala prioritas khususnya pemilih pemula yang berjumlah lebih dari 58 juta calon pemilih. Hal tersebut merupakan angka signifikan yang layak diperhitungkan bukan hanya dari tingkat partisipasi tapi juga penentu pergerakan dan pembangunan politik di tanah air.

Yang perlu digaris bawahi sekarang kaum muda sering kali dijadikan alat mobilisasi politik, meskipun dipelopori oleh pergerakan kaum muda belakangan justru menghilang karena tidak ada yang memonitor proses perubahan tersebut. Adanya keterlibatan kaum muda dalam unsur pemerintahan bukan pada tataran pemudaan kembali atau empowering tapi lebih kepada proses regenerasi kepemimpinan.

Lalu dimana positioning kaum muda untuk berpartisipasi di kancah demokrasi – politik lebih tepatnya – baik dalam kapasitas regional di daerah maupun skala nasional ?  Tidak hanya menggantikan orang tuanya dalam arti regenerasi yang sebenarnya, tetapi juga partisipasi ini dapat dimaknai dalam kaidah melakukan pergantian pola pikir serta kebijakan strategis dalam proses penyelenggaran pemerintahan.

Positioning kaum muda dalam politik sangat diperlukan agar keterlibatan politiknya tidak hanya pembaharuan secara fisik semata, namun tercermin dalam visi dan gerakan politiknya harus dalam nuansa membangun dan membangkitkan perubahan yang enerjik sesuai dengan jiwa dan semangat kepemudaannya.

Sebagai pengantar untuk dijadikan materi diskusi dalam Dengar Pendapat Umum ini, saya menggaris bawahi ada  4 (empat) unsur penting yang menjadi pandangan saya dalam membangkitkan cara pandang kaum muda terhadap demokrasi kita.

  • Pendidikan Politik

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pendidikan politik dilakukan dengan proses pendidikan yang disengaja dan sistematis untuk membentuk karakter individu yang menjadi partisipan yang bertanggung jawab secara etis dan moral dalam mencapai tujuan politiknya. Tentu saja kadar keberhasilan pendidikan politik ini tidak dapat secara eksplisit diberikan, namun tingkat partisipatoris dalam rangkaian kegiatan demokrasi dan politik diharapkan maksimal diperoleh sebagai bentuk pemahaman kedaulatan rakyat.

Secara singkat, dapat ditarik garis tujuan dari pentingnya pendidikan politik yakni :

  1. Menemukenali apa yang harus diubah
  2. Menghilangkan unsur kompromi
  3. Melahirkan pertanyaan kritis untuk perubahan
  4. Memahami mengenai kekuasaan dan mekanismenya
  5. Menjadi bagian dari kontrol pelaksanaan.

Keterbukaan dalam pendidikan politik menjadi kata kunci yang penting dalam menanamkan pendidikan politik yang sehat untuk kaum muda. Keterbukaan ini dapat ditandai dan dimaknai sebagai sikap yang menerima keberagaman pendapat, sikap dan perilaku dalam bermasyarakat. Keterbukaan inilah yang dapat dijadikan wadah untuk mengkomunikasikan gagasan dalam menghasilkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang menjadi friksi di kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

  • Peran Pemerintah

Dapat dikatakan pemerintah masih kurang peka tentang pentingnya peran politik kaum muda. Walhasil kaum muda hanya dijadikan pajangan ketika menjelang pemilu maupun pilkada. Dengan menggaet para artis dan selebritis untuk mendendangkan pentingnya keterlibatan kaum muda, pemerintah tanpa disadari menampakkan kurangnya program-program pendidikan politik untuk kaum muda.

Menurut hemat saya terdapat tiga hal sederhana yang dapat dilakukan pemerintah untuk lebih menguatkan sinerginya dengan kaum muda :

  1. Pemerintah semestinya mengakui peran kaum muda dalam proses kehidupan berdemokrasi dan politik dengan cara melibatkan kaum muda dalam pengambilan kebijakan terkait pemangku kepentingan di masyarakat.
  2. Secara konsisten membuka ruang komunikasi untuk kaum muda dalam mengungkap berbagai realita kehidupan bermasyarakat, melakukan analisa dan penelitian bersama untuk melahirkan alternatif solusi yang implementatif.
  3. Menyediakan dana untuk pengembangan dan kegiatan komunitas, bukan untuk memanjakan tapi untuk memberi kemudahan serta meningkatkan kreatifitas komunitas tersebut dalam membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun.
  •  Peran Partai Politik

Mengutip dari data KPU, jumlah pemilih pemula pada pemilu 2014 yang berusia antara 17 sampai 20 tahun sekitar 14 juta orang. Sedangkan yang berusia 20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa. Dari data tersebut pemilih pemula dan kaum muda menempati deretan angka signifikan dari jumlah keseluruhan pemilih. Jika partai politik tidak memandang serius data tersebut, maka partai politik akan kehilangan segmen penting yang harus mereka raih dalam pemilu mendatang. Jika berasumsi rentang usia tersebut menggunakan seluruh hak pilihnya, hasil yang diperoleh akan melampaui dua kali lipat perolehan suara Partai Golkar di Pemilu 2004 dan Partai Demokrat di Pemilu 2009.

Partai politik memiliki peran yang penting dalam membangun partisipasi kaum muda di pemilu. Memang terjadi penurunan partisipasi masyarakat dalam pemilu. Pada tahun 1999, partisipasi masyarakat dalam pemilu sebesar 99,33%, di tahun 2004 84,9%, kemudian merosot lagi ke angka 70,99% di tahun 2009. Menurut beberapa penelitian salah satu faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadi karena adanya rentang jarak antara partai politik dan konstituennya. Partai politik menampakkan dirinya ketika menjelang pemilihan umum berlangsung.

Dari catatan berbagai data di atas beberapa hal yang semestinya menjadi konsen partai politik dalam menunjukkan perannya di tengah kaum muda adalah sebagai berikut :

  1. Menyadari bahwa kaum muda memiliki karakteristik berbeda sehingga perlu pendekatan khusus
  2. Mengoptimalkan kemunculan kaum muda dalam politik yang dibekali dengan semangat perubahan yang akan diusung
  3. Kondisi Indonesia yang menganut sistem multi partai harus dipandang sebagai unsur yang memperkaya khasanah demokrasi
  4. Membangun kedekatan jarak antara partai politik dan pemuda, karena dengan kedekatan ini akan menjadi pemicu serta bagian dari agregasi kepentingan politik kaum muda
  5. Menyertakan keterwakilan pemuda dalam kepengurusan partai politik maupun organisasi sayap partai politik
  •  Peran Kaum Muda

Kita sudah sering mendengar persepsi-persepsi miring terhadap kaum muda setelah melihat realitas kondisi dunia kepemudaan yang dikatakan berada di ranah budaya pop, instan dan hedonis. Lalu dikatakan melahirkan kaum muda yang cenderung labil, apatis dan tidak peduli dengan dunia perpolitikan bangsa ini.  Semua itu merangkai dan menyumbang angka yang cukup tinggi terhadap keterlibatan kaum muda di pemilu.

Padahal baik penyelenggara maupun peserta pemilihan umum sangat menyadari bahwa kaum muda memiliki karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan kelompok ataupun segmen pemilih lain. Kaum muda yang khususnya tergabung dalam barisan pemilih pemula semestinya mengkondisikan dirinya menjadi pemilih yang kritis, tidak individualis dan menyadari bahwa mereka punya kepentingan dalam pemilihan umum ini.

Untuk menghadirkan nuansa kritis dan diwarnai pembaharuan yang identik dengan kaum muda, beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan oleh kaum muda itu sendiri adalah :

  1. Memahami ideologi yang dianut bangsa
  2. Memiliki ketertarikan untuk mengetahui praktek politik
  3. Mengetahui apa yang ingin diubah
  4. Mengenali calon yang memiliki idealisme yang sama

Sebagai catatan akhir saya tentang demokrasi yang dilihat dari sudut pandang kaum muda, kita bisa menyimak apa yang diungkapkan oleh Soe Hok Gie (1959), pemuda memiliki tugas untuk memberantas generasi tua yang mengacau, menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor serta mewujudkan kemakmuran Indonesia.

Peran serta kaum muda dalam dunia perpolitikan seyogyanya memberikan stimulus dalam realitas politik yang diwarnai dengan nuansa politik instan, tidak kompeten dan bermodal popularitas. Sentuhan idealisme dan pikiran-pikiran kritis yang dimotori kaum muda, semestinya semakin membawa nuansa baru dan penuh perubahan dalam membangun Indonesia yang lebih baik dalam proses demokratisasi.

 referensi dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *